Rumah adat dan adat tunggu tubang (Sumatera Selatan)

RUMAH ADAT DAN ADAT TUNGGU TUBANG
Oleh : Atira Elpariska Maya

A. Latar Belakang
Sumatera Selatan memiliki wilayah yang sangat luas dengan kondisi wilayah yang sangat bervariasi yang meliputi wilayah pantai, dataran rendah, dataran rawa yang dipengaruhi pasang surut air laut, perbukitan dan pegunungan. Provinsi Sumatera Selatan memiliki beberapa sungai besar dengan induk sungai Musi. Selain daerah rawa dan dataran rendah yang sering digenangi air, Sumatera Selatan juga memiliki daerah yang rawan bencana gempa bumi, misalnya daerah Lahat, Pagar Alam dan Ogan Komering Ulu. Kondisi tersebut juga memiliki pengaruh terhadap arsitektur rumah tradisional.


Pada sisi lain, rumah tradisional pada umumnya mempunyai nilai arsitektur yang tinggi serta merupakan cerminan kearifan lokal. Hal ini bisa dimengerti karena rumah tradisional sesuai dengan iklim tropis, berwawasan lingkungan serta sesuai dengan konteks setempat.
Di beberapa kabupaten dan kota di luar Palembang di Provinsi Sumatera Selatan, terdapat beragam rumah tradisional yang dikualifikasikan sebagai rumah panggung sekaligus rumah ulu. Rumah panggung tersebut umumnya memiliki tiang yang diletakkan di atas batu yang berfungsi sebagai pondasi umpak. Dengan tiang rumah berada di atas batu atau beberapa butir batu, rumah tradisional menjadi lebih fleksibel terhadap gempabumi karena dapat bergerak lebih elastik untuk mengurangi pengaruh goncangan akibat gempabumi tersebut. Rumah tradisional yang memiliki pondasi umpak batu diantaranya adalah rumah Basemah, rumah Semendo, Lamban Tuha dan rumah Ulu Berundak.
Menurut Hadi Hartanto(2007;51) bahwa Sumatera Selatan wilayahnya luas dan subur. Di wilayah ini bermukim suku-suku bangsa daerah dengan budaya dan adat istiadat masing-masing yang bercorak amat khas.
Di kabupaten Muara Enim terdapat daerah Semende yang memiliki ciri khas daerah yaitu adat tunggu tubangnya, yang perlu dilestarikan keberadaannya. Pada makalah ini penulis akan mengungkapkan rumah adat dan adat tunggu tubang.

B. Pengertian

1. Pengertian Rumah Adat
Menurut Sudjatmoko (2004:3) menyatakan bahwa Rumah Adat adalah rumah tempat diselenggarakannya upacara adat istiadat. Rumah adat yang ada di Indonesia banyak sekali model arsitektur dan fungsinya. Keragaman tersebut disebabkan adat kebudayaan setiap daerah di Indonesia yang memiliki kekhasan masing-masing. Bentuk rumah adat menunjukkan cirri khas kehidupan penduduk didaerah tersebut. Fungsi lain dari rumah-rumah adat adalah sebagai tempat berteduh, beristirahat, serta tempat berkumpul dan berkunjung di antara kerabat dari keluarga istri maupun suami.

2. Pengertian Rumah Limas
Rumah tradisional masyarakat Palembang disebut dengan ’rumah limas’. Denahnya memanjang dengan atap berbentuk perisai yang bagian depan dan belakangnya dipangkas hingga membentuk trapesium. Variasinya pada bagian atas atap perisai diberi atap perisai lain yang sudut kemiringannya lebih tajam. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter. Pengaruh arsitektur Belanda membuat ketinggian panggung menjadi rendah dan kolong menjadi ruang negatipe (Ari Siswanto,2009).
Rumah ini memilliki teras kecil berpagar tinggi sampai ke atap yang berhubungan dengan tangga masuk rumah. Pagar tinggi yang sekaligus menjadi dinding karawang berfungsi menghalangi pintu utama untuk langsung berhubungan dengan halaman luar. Posisinya di tengah dinding depan menghadap ke luar.
Di bagian depan terdapat ruang penerima tamu dengan dinding yang memiliki bukaan luas dengan adanya jendela-jendela yang berjajar. Ruang utama yang berada di tengah rumah disebut dengan ’ruang gajah’. Ruang gajah adalah tempat yang paling dihormati, posisinya dibatasi dengan tiang-tiang utama yang disebut dengan ’sako sunan’. Kamar-kamar tidur terletak di sisi kiri dan kanan berhubungan dengan dinding luar, sedangkan bagian belakang rumah berfungsi sebagai dapur (Ari Siswanto,2009).
Pembangunan rumah limas Palembang dimulai dengan upacara yang diadakan oleh keluarga dari orang yang akan membangun. Upacara mendirikan rumah ini dilakukan dengan menyembelih hewan ternak seperti ayam atau kambing, dengan mengajak tetangga sekitarnya. Dalam upacara dilakukan doa-doa dan dilanjutkan dengan pertemuan untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pendirian rumah. Sebagai penutup upacara diadakan acara makan bersama.
Pengumpulan bahan bangunan biasanya sudah disiapkan terlebih dahulu sebelum atau sesudah upacara. Jika diperkirakan bahan bangunan tersebut cukup, maka yang berupa kayu harus direndam dalam air mengalir sampai enam bulan. Sampai pada waktu pembangunannya, bahan tersebut dikeringkan dan dipilih sesuai dengan elemen konstruksi yang akan digunakan. Sebelum memulai konstruksi diadakan upacara pendirian tiang dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi. Upacara ini dengan mengundang seluruh tenaga kerja pembangunan rumah besarta masyarakat sekitarnya (Ari Siswanto,2009).
Masyarakat palembang memilih hari Senin sebagai hari baik dalam memulai pembangunan rumah. Tempat yang terbaik bagi pendirian rumah adalah lokasi yang dekat dengan sungai. Untuk mendirikan rumah, masyarakat menggunakan tenaga perancang yang memiliki pengetahuan dan adat membangun rumah. Tenaga ini biasanya memiliki ilmu turun-temurun sebagai ahli dalam bangunan tradisional. Mereka bukan hanya mengetahui sistem struktur konstruksi dan detail rumah, namun juga bisa memilih bahan bangunan/kayu yang baik.
Tahap pertama dari pembangunan rumah limas Palembang dilakukan dengan menggali tanah terlebih dahulu. Yang pertama kali dipasang adalah tiang tengah (sako sunan), yang dirangkai dengan balok-balok penguatnya, kemudian baru memasang tiang-tiang lain dan merangkainya dengan balok lain pula. Pemasangan tiang-tiang ini berurutan dengan proses penggalian dan pengurugan tanah kembali.
Pekerjaan struktur ini dilanjutkan dengan pemasangan kuda-kuda dan kerangka atap sampai dengan penyelesaian konstruksi atap beserta penutupnya. Setelah bangunan memiliki atap, barulah dibuat elemen konstruksi lantai dan dinding. Sebelum memasang kerangka atap diadakan upacara naik atap. Demikian pula jika seluruh bagian rumah telah selesai, sebelum ditempati juga diadakan upacara yang bernama ’nunggu rumah’
Rumah Limas merupakan prototype rumah tradisional Palembang, selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah limas ini memiliki ciri-ciri;
– Atapnya berbentuk Limas
– Badan rumah berdinding papan, dengan pembagian ruangan yang telah ditetapkan (standard) bertingkat-tingkat.(Kijing)
– Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas tiang-tiang yang tertanam di tanah
– Mempunyai ornamen dan ukiran yang menampilkan kharisma dan identitas rumah tersebut Kebanyakan rumah Limas luasnya mencapai 400 sampai 1.000 meter persegi atau lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang kayu Onglen dan untuk rangka digunakan kayu tembesu (Ari Siswanto,2009).
Pengaruh Islam nampak pada ornamen maupun ukiran yang terdapat pada rumah limas. Simbas (Platy Cerium Coronarium) menjadi symbol utama dalam ukiran tersebut. Filosofi tempat tertinggi adalah suci dan terhormat terdapat pada arsitektur rumah limas (Ari Siswanto,2009).
Ruang utama dianggap terhormat adalah ruang gajah (bahasa kawi= balairung) terletak ditingkat teratas dan tepat di bawah atap limas yang di topang oleh Alang Sunan dan Sako Sunan.
Diruang gajah terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak tinggi dari ruang gajah (+/- 75 cm). Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah Limas baik untuk adat, kehidupan serta dekorasi. sebagai pembatas ruang terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki rumah (Ari Siswanto,2009).
Pangkeng (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Pada ruang belakang dari segala terdapat pawon (dapur) yang lantainya sama tingkat dengan lantai Gegajah tetapi tidak lagi dibawah naungan atap pisang sesisir.
Dengan bentuk ruangan dan lantai berkijing-kijing tersebut, maka rumah Limas adalah rumah secara alami mengatur keprotokolan yang rapi, tempat duduk para tamu disaat sedekah sudah ditentukan berdasarkan status tersebut di masyarakat (Ari Siswanto,2009).
Di Kota Palembang Sumatera Selatan Mempunyai Rumah Kayu Adat Yang Disebut Rumah Limas, Namun Ada Beberapa Kalangan Menyebut Rumah Ini Dengan Sebutan Rumah Bari, Kata Bari Berarti Lama atau Tempo Dulu, Dikarenakan Rumah Limas Ini Merupakan Peninggalan Warisan Nenek Moyang Sejak Dulu Kala.
Rumah Limas Ini Merupakan Warisan Budaya Sumatera Selatan, Khususnya Palembang Yang Patut Kita Lestarikan Keberadaannya. Di Palembang Sendiri masih Banyak Rumah Limas, Terutama Di Daerah Yang Berdekatan dengan Sungai Musi, Sebab Pada Jaman Dulu Merupakan Pusat Kota dan Pusat Pemerintahan Kesultanan Palembang serta Kerajaan Sriwijaya Yang Sangat Terkenal (Ari Siswanto,2009).

3. Pengertian Adat Tunggu Tubang
Menurut Haris Fakhri(2001;21) menyatakan bahwa Tunggu tubang terdiri dari dua kata yang berlainan artinya : Tunggu dan Tubang. Tunggu dapat diartikan menanti atau menunggu, sedangkan tubing adalah sepotong bambu yang terletak di bawah tirai di dapur yang dipergunakan untuk menyimpan bahan-bahan makanan sehari-hari seperti terasi, ikan kering, serta yang lain-lainnya, yang dalam pepatah disebutkan tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan, begitulah kira-kira artinya sifat yang dimiliki oleh anak tunggu tubing.
Menurut Haris juga, bahwa Tunggu tubang adalah nama jabatan yang dipercayakan kepada anak perempuan tertua dalam suatu keluarga, dimana jabatan tersebut adalah merupakan jabatan otomatis yang sifatnya turun temurun dan biasanya jabatan tersebut diadakan penyerahan setelah anak perempuan tertua menginjak berumah tangga, namun dalam hal ini orang tua dari anak tunggu tubing tersebut masih tinggal bersama-sama dengan anak tunggu tubing sampai anak tersebut dapat hidup mandiri dalam keluarga sebagaimana layaknya anak-anak tunggu tubing yang lainnya hidup dalam masyarakat.
Menurut Yanter Hutapea (2009;2) bahwa walaupun budaya ini ada juga di wilayah Kabupaten Lahat, Pagar Alam, bahkan OKU Selatan, namun nuansanya lebih terasa kental di Kabupaten Muara Enim, yaitu di kawasan Semende. Sebelum dihapusnya pemerintahan marga di Sumsel maka wilayah Semende ( orang luar lebih sering menyebutnya dengan Semendo), meliputi 15 marga. Dari ke lima belas daerah territorial (marga) tersebut terdapat tiga marga yang terletak di wilayah kabupaten Muara Enim yang saat ini ketiga marga tersebut menjadi kecamatan Semende Darat Laut yang meliputi 10 desa, Semende Darat Ulu meliputi 10 desa dan Semende Darat Tengah meliputi 9 desa.
Kata Semende mempunyai beberapa pengertian (Tim peneliti Adat Istiadat Masyarakat Semende;2002 dalam Yanter(2009;3), diantaranya:
1. Berasal dari kata same dan Nde. Same berarti sama, Nde berarti milik, sehingga bermakna sama memiliki/sama kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik dalam individu maupun dalam arti jurai.
2. Berasal dari Se-Man-nde artinya rumah kesatuan milik bersama (rumah yang dirtunggu oleh anak tunggu tubing), tempat berkumpulnya sanak keluarga sewaktu berziarah ke puyang, hari-hari besar serta acara keluarga.
Juga menurut Yanter (2009;3) menyatakan bahwa Orang yang berhak menjadi tunggu tubang adalah anak perempuan tertua, kendati dia anak bungsu atau perempuan satu-satunya dalam keluarga itu. Kalu tidak ada anak perempuan maka akan dialihkan kepada salah seorang anak laki-laki yang ada, diutamakan laki-laki tertua dan tentunya setelah menikah, jadi diangkat sebagai tunggu tubing, ini dinamakan Ngangkit. Seandainya dalam keluarga tersebut tidak dimiliki seorang anakpun, maka kedudukan tunggu tubing dialihkan kepada adik perempuan dari tunggu tubing sebelumnya.
Kehidupan masyarakat Semende sehari-harinya terkait erat dengan adat-istiadat dan tidak akan lepas dari lambing adat yang terdiri dari lima bagian yang masing-masing mempunyai Yanter(2009;3) yaitu:
1. Kujur/tombak, memiliki makna cepat tanggap pada setiap permasalahan, dan jika hal itu merupakan perintah dari meraje, tidak pernah membantah (dalam hal yang baik-baik) dan segera melaksanakannya. Mencerminkan kejujuran dalam bahasa Semende disebut kujur.
2. Kampak/kapak, yang terdiri dari dua sisi. Ini melambangkan bahwa masyarakat Semende melihat perlakuan yang sama antara pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan dalam membina jurai, mampu menyelesaikan masalah dalam keluarga dengan seadil-adilnya/ tidak berat sebelah.
3. Jala/jale, yang digunakan untuk alat menangkap ikan. Jala terdiri dari tiga bagian yaitu pusat jala, daun jala dan rantai atau batu jala. Jala bila ditarik berawal dari pusat, sehingga rantai yang berbentuk cincin akan terkumpul. Secara filosofis melambangkan persatuan dan kesatuan masyarakat/keluarga yang dinamakan Jurai yang dikomandoi oleh Meraje.
4. Tebat/kolam. Berbeda dengan sungai, kolam tidak memiliki riak-riak seperti sungai, selalu tenang. Kondisi ini didukung dengan kondisi alam yang dingin dan air gunung selalu mengalir. Kolam ini perlambang kepribadian tunggu tubing yang tetap sabar dan konsisten menghadapi persoalan dalam jurai. Jika ada perselisihan dalam rumah tangga, harus dapat diselesaikan tanpa perlu melibatkan orang tua, mertua apalagi sampai keluarga besar.
5. Guci, sebagai tempat menyimpan makanan untuk persiapan dan diperlukan ketika ada tamu. Hal ini melambangkan bahwa Tunggu tubing bersifat hemat dan bila ada jurai yang bertandang dapatlah dijamu. Merupakan aib, jika jurai yang bertamu, tunggu tubing tidak memiliki apa-apa untuk disuguhkan. Bahkan merupakan kebiasaan jika ada jurai atau keluarga yang dating dari jauh akan kembali ke tempatnya, maka tunggu tubang memberikan oleh-oleh. Ini membuktikan warga Semende terbuka untuk menerima tamu baik keluarga dekat atau orang lain.

Kekerabatan adat Semende dinamakan Lembage Adat Semende Meraje Anak Belai. Dalam lembaga tersebut yang menjadi kekhususan adalah adanya pengawasan dan bimbingan keluarga terhadap Tunggu tubang, yang terdiri dari;
1. Lebu Meraje (Lebu Jurai) ialah kakak atau adik laki-laki dari buyut Tunggu Tubang. Lebih tinggi kedudukan dan kekuasaannya dalam segala hal, akan tetapi jarang didapati karena biasanya sampai pada tingkatan jenang jurai sudah meninggal.
2. Puyang Meraje (Puyang jurai) ialah kakak atau adik laki-laki dari puyang Tunggu tubang. Tugasnya melindungi, mengasuh dan mengatur jurai tersebut menurut agama dan adat.
3. Jenang Meraje (Jenang jurai) ialah kakak atau adik laki-laki dari nenek Tunggu tubang bertugas mengawasi, member petunjuk yang telah digariska oleh puyang jurai kepada keluarga itu dan melaporkannya ke Puyang Jurai.
4. Meraje ialah kakak atau adik laki-laki dari ibu Tunggu tubang, tugasnya sebagai orang yang terjun langsung membimbing dan mengasuh anak belai (tunggu tubang) sesuai ajaran agama dan adat.
Jadi meskipun tunggu tubang adalah anak perempuan, namun peran dari laki-laki sangatlah penting, karena mereka inilah yang berperan mengawasi tunggu tubang. Mereka yang mempunyai status di atas harus ditaati perintahnya sepanjang untuk membangun dan memperbaiki apa yang berhubungan dengan Tunggu tubang serta harta pusakanya. Mereka akan berada dibelakang, memberi tegoran kalau ada kekurangan yang dilakukan tunggu tubang. Kekuasaan laki-laki akan tetap dihormati. Status tunggu tubang anak belai (anak yang harus dibela). Yang membelanya adalah Meraje, Jenang Jurai, Puyang Jurai, dan Lebu Meraje/Jurai. Meraje adalah pemimpin terhadap tunggu tubing. Berapapun jumlahnya, hanya saja sewaktu berbicara yang tertua didahulukan. Sebagai orang yang bertugas mengawasi tunggu tubing, meraje diisyaratkan memiliki sifat yang baik dan suri tauladan bagi anak belai yang diawasinya, yaitu: (i) adil, (ii) mengayomi,(iii) sabar, (iv) berwibawa dan tegas, (v) cerdas dan tanggap mengatasi masalah, dan (vi) bijaksana mengatasi permasalahan dan mengambil keputusan (Tim peneliti Adat Istiadat Masyarakat Semende,2002 dalam Yanter ,2009;3).

C. Rumah Adat bagi Tunggu Tubang
Arsitektur rumah adat yang terdapat di Palembang yaitu rumah limas, di daerah luar Palembang juga terdapat rumah limas yang didirikan salah satunya adalah di daerah Kabupaten Muara Enim yaitu Semende.
Pada saat pelaksanaan upacara adat maupun acara musyawarah keluarga, anggota keluarga yang menempati tempat duduk didalam rumah secara otomatis sudah ditentukan sendiri dimana posisi duduk didalam rumah. Sangat aib apabila suami dari anak belai duduk berdampingan/satu ruang dengan Meraje.
Arsitektur rumah limas terdapat beberapa ruang dan ruang utama dengan lantai yang beberapa tingkat dan yang duduk menempati lantai sesuai dengan kedudukannya masing-masing, yang paling tinggi adalah Meraje sedangkan yang duduk lantai paling rendah atau diluar adalah anak kandang ( keponakan dari anak belai ).
Dengan masih utuhnya adat tunggu tubang di semende sangat berdampak positip akan kelestarian rumah adat yang berbentuk limas di daerah semende, karena peran tunggu tubang dalam merawat dan menjaga harta pusaka sangat penting dan tunggu tubang tidak boleh menjual harta pusaka akan tetapi hanya memakai dan merawatnya. Sehingga rumah adat yang ditunggu akan terpelihara dengan baik dan terjaga kelestarian arsitekturnya.

D. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa;
1. Berbagai rumah tradisional di daerah Sumatera Selatan mempunyai nilai kearifan lokal yang spesifik dan mudah dipelajari. Langgam arsitektur, tipe struktur, bahan bangunan dan penyelesaian tapak dari berbagai rumah tradisional menunjukkan pemahaman yang komprehensif serta adaptif terhadap lingkungan mereka.
2. Budaya Tunggu Tubang merupakan kearifan lokal di wilayah Semende Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, perannya masih dirasakan hingga saat ini. Tunggu Tubang diberi hak untuk memakai, menempati, memelihara dan mengambil hasil harta pusaka peninggalan orang tua bahkan leluhurnya, tetapi tidak berhak menjualnya, karena harta tersebut merupakan warisan milik bersama keluarga besar.
3. Peran positif tunggu tubang dapat dirasakan dalam pengelolaan sumber daya lahan yang diwariskan dan mempertahankan kelangsungannya. Begitu juga dengan memelihara rumah adat yang ditempati oleh tunggu tubang akan terpelihara dengan baik turun temurun sampai anak cucu.
4. Sebagai pelajar perlu mempelajari kebudayaan yang ada agar kelestariannya dapat terjaga. Dengan mempelajari arsitektur rumah adat, pelajar dapat mengambil peran sebagai pewaris untuk melestarikan kearifan lokal.

DAFTAR PUSTAKA

Adisukarjo,dkk,2004, Kajian Pengetahuan Sosial 4, Yudhistira, Jakarta.

————————–, Horizon Pengetahuan Sosial 5, Yudhistira, Jakarta.

Fakhri Haris, 2001, Kedudukan Ahli Waris Terhadap Harta Tunggu Tubang Ditinjau Dari Hukum Adat dan Hukum Islam Pada Masyarakat Semendo di Kabupaten Muara Enim, Tesis.

Hartanto,dkk,2007, Mengenal Kebudayaan Suku-Suku Bangsa Indonesia, Angkasa , Bandung.

Hutapea Yanter dan Tumarian Thamrin, 2009, Eksistensi Tunggu Tubang sebagai Upaya Mempertahankan Sumberdaya Lahan berkelanjutan, Departemen Pertanian, Bogor.

Siswanto Ari, 2009, Kearifan local Arsitektur Tradisional Sumatera Selatan Bagi Pembangunan Lingkungan Binaan.(On line), Volume 1,(http://www.localwisdom.ucoz.com diakses 3 Oktober 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s