”Pasar 16 sebagai Warisan Niaga Palembang”

Oleh Atira Elpariska Maya

(2nd winner writing competition, In south sumatera 2011)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sumatera Selatan merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang memiliki banyak sejarah. Hal tersebut sangat didukung dengan ditemukannya berbagai jenis arca dan prasasti. Tetapi, di suatu tempat yang ramai dengan bangunan yang cukup bagus dan dipenuhi warna-warni cat mempunyai suatu kenangan masa lalu yang sangat berharga hingga sekarang.
Kota tidak bisa melepaskan diri dari adanya pusat kegiatan komersial yang disebut pasar. Pasar di Palembang pada masa kota keraton merupakan suatu keistimewaan karena perdagangan berlangsung di atas permukaan air seperti pasar terapung atau warung di atas rakit.

Pasar yang ada saat ini adalah Pasar 16, Pasar Sekanak, Pasar Bajas, adalah pasar-pasar yang dahulu terbentuk dari kegiatan pertemuan perahu-perahu di muara sungai. Salah satu pasar yang mempunyai sejarah dibalik keramaiannya saat ini adalah Pasar 16.
Pada masa lalu, Pasar 16 merupakan tempat persinggahan para saudagar atau pedagang yang melalui Sungai Musi. Sungai Musi merupakan salah satu sumber hidup dan penghidupan masyarakat Palembang. Ketergantungan warga kota terhadap sungai Musi sangat besar, terutama untuk minum, transportasi, ekonomi, dan mata pencaharian. Karena ramainya para pedagang dan pembeli, maka Pasar 16 menjadi pusat perdagangan sejak dulu hingga sekarang. Pasar 16 saat ini terletak di kawasan 16 ilir Palembang dan berlokasi dekat dengan Sungai Musi serta Masjid Agung Palembang sehingga ramai dikunjungi para pembeli dari dalam maupun luar kota.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan pasar 16 dengan masa Kesultanan Palembang Darusalam?
2. Bagaimana kondisi bangunan tua di Pasar 16?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah mengetahui seberapa pentingkah pasar 16 bagi Kerajaan Palembang, memaparkan hubungan Pasar 16 dengan Kesultanan Palembang Darusalam dan menjelaskan pasar 16 dari masa lalu hingga sekarang.

1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari karya tulis ini dapat diperoleh oleh pemerintah, masyarakat Palembang, dan penulis. Kita dapat mengetahui bahwa pasar 16 merupakan pasar yang mempunyai sejarah yang berhubungan dengan kerajaan terdahulu. Selain itu, kita juga dapat menyadari pentingnya menjaga peninggalan sejarah.

1.5 Metodologi Penulisan
a) Tempat dan Waktu Pelaksanaan
– Tempat : SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy)
– Penulisan, observasi, dan pencarian literatur ini dimulai tanggal 6 Oktober 2011 sampai 23 Oktober 2011.

b) Metode Penulisan
1. Studi pustaka
Metode studi pustaka yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengambil data atau keterangan dari berbagai buku literatur.
2. Wawancara
Metode wawancara dilakukan untuk mendapatkan data lain seperti tanggapan atau respondari masyarakat. Data yang dipaparkan merupakan hasil analisis dari wawancara yang dilakukan pada seorang pedagang pakaian jadi di Pasar 16.
3. Observasi
Metode observasi, yaitu peninjauan secara cermat sebelum melakukan praktik untuk suatu kegiatan. Observasi di lakukan di Museum Sultan Mahmud Badarudin II dan Pasar 16 selama beberapa hari.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Palembang sebagai Bandar
Palembang adalah salah satu daerah strategis yang menjadi pusat perdagangan sejak dahulu. Kota Palembang terbagi menjadi dua daerah yang di lalui sungai Musi yaitu daerah Ilir dan Ulu. Dahulu, transportasi utama kota Palembang di dominasi oleh transportasi air. Penduduk menggunakan perahu untuk menyeberang ke daerah Ilir dan sebaliknya. Dan ketika itu pula orientasi aktivitas ekonomi lebih banyak berada di kawasan Ilir sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Persaingan antar pedagang tampak dari harga-harga barang kebutuhan pokok yang relatif murah dibanding tempat lain. Para pedagang pun tak hanya dari daerah sekitar Palembang melainkan di dominasi oleh orang Ayib (Arab) dan China. Selain ramai pada perdagangannya, Palembang kaya akan rempah-rempah sehingga menarik perhatian para pendatang. Menurut sumber Tionghoa abad XIII, yaitu Zhufan Zhi karya Zhau Rukua menjelaskan cengkeh dihasilkan oleh Palembang.
Contoh tempat perniagaan tersebut adalah Pasar 16, Pasar Cinde, Pasar Induk Jakabaring, dan lainnya. Lokasi Palembang yang terletak di tepian sungai Musi merupakan tempat strategis untuk menarik minat para pedagang untuk melakukan transaksi jual beli. Suatu berkah yang didapatkan oleh Palembang adalah Sungai Musi. Sungai Musi dimanfaatkan para penduduk sebagai sarana transportasi dan perniagaan dari masa ke masa. Itulah sebabnya masyarakat luar Sumatera Selatan menyebutkan bahwa Palembang merupakan kota bandar, dimana proses perniagaan banyak terjadi disana dan karena adanya Sungai Musi yang membawa rejeki bagi masyarakat dari dahulu hingga sekarang.

2.2 Sriwijaya Sebagai Bandar di Masa-lalu
Sriwijaya adalah suatu nama kerajaan yang yang tentu tidak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia. Karena Sriwijaya merupakan kerajaan maritim terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara pada abad 7-15. Sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya memiliki pasukan yang kuat.
Teknologi pembuatan perkapalan dan navigasinya pun maju, bahkan lebih daripada Cina, seperti yang dikatakan oleh Piere Yves Manguin, seorang Arkeolog yang mendalami Asia. Selain itu, Sriwijaya memanfaatkan wilayah maritimnya dengan menggunakan perahu-perahu besar pada rute transportasi perdagangan di Laut Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan.
Dalam kehidupan politik, raja pertama Sriwijaya adalah Dapunta Hyang Sri Jayanaga mempunyai pusat wilayah kekuasaan yang cukup besar, tetapi ada 2 pendapat kuat mengenai hal tersebut. Pertama, disebutkan pusat Sriwijaya berada di Palembang karena banyak ditemukan berbagai prasasti dan adanya Sungai Musi yang strategis untuk perdagangan. Pendapat kedua menjelaskan Sriwijaya berada di Minangatamwa yaitu tempat pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri didaerah Jambi yang juga strategis untuk perdagangan. Dari hal tersebut, para ahli menyimpulkan bahwa kerajaan Sriwijaya mulanya berada didaerah Palembang dan pindah ke Minangatamwa.
Selanjutnya Sriwijaya mampu mengembangkan kerajaannya melalui keberhasilan politik ekspansi. Hal ini sesuai dengan prasasti yang ditemukan di Lampung, Bangka dan Ligor. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa Sriwijaya adalah Negara Kesatuan Pertama sebab kekuasaannya luas dan berperan sebagai negara besar di Asia Tenggara. Jika dilihat dari kehidupan politik, kerajaan Sriwijaya sangat mengutamakan kegiatan perdagangan begitu pula halnya dalam kehidupan ekonomi Sriwijaya.
Kedudukan Sriwijaya dalam perdagangan Internasional menjadi sangat baik. Hal ini juga didukung dengan kecakapan dan kebijaksanaan dari raja Sriwijaya yaitu Balaputradewa. Pada masa itu, Sriwijaya memiliki armada laut yang kuat sehingga mampu menjamin keamanan dijalur-jalur pelayaran yang menuju Sriwijaya. Banyak pedagang dari luar yang singgah dan berdagang di Sriwijaya. Dengan adanya pedagang yang singgah dapat meningkatkan penghasilan Sriwijaya dengan pesat. Penghasilan yang tinggi tersebut diperoleh dari pembayaran upeti, pajak ataupun keuntungan dari hasil perdagangan.
Dari masa kerajaan Sriwijayalah perdagangan di kota Palembang terus menerus berkembang. Prasarana di Palembang sangat mendukung kemajuan perdagangannya dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu. Palembang telah membuktikan dan menjadi pelabuhan yang paling aman dan dengan peraturan yang paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Masyarakat luar kota Palembang sudah mengenal lama bahwa dari dahulu Palembang merupakan bandar bagi perniagaan dan pemasaran. Perdagangan di Palembang telah menjadi turunan dari zaman kerajaan Sriwijaya dahulu.

2.3 Kesultanan Palembang Darussalam
Sejarah panjang terbentuknya Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-17, dapat di runut dari tokoh Aria Damar, seorang keturunan dari raja Majapahit yang terakhir. Kesultanan Palembang Darussalam secara resmi diproklamirkan oleh Pangeran Ratu Kimas Hindi Sri Susuhanan Abdurrahman Candiwalang Khalifatul Mukminin Sayidul Iman (atau lebih dikenal Kimas Hindi/Kimas Cinde) sebagai sultan pertama (1643-1651), terlepas dari pengaruh kerajaan Mataram (Jawa). Tanggal 7 Oktober 1823, Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan oleh penjajah Belanda dan kota Palembang dijadikan Komisariat di bawah Pemerintahan Hindia Belanda (kontrak terhitung 18 Agustus 1823).
Pada masa akan berakhirnya Kesultanan Palembang Darussalam, tanggal 16 Juli 1821 Jenderal De Kock melantik Prabu Anom menjadi Sultan Najamuddin IV dan ayahnya Husin Dhiauddin menjadi Susuhunan Najamuddin II. Kesultanan Palembang dijadikan bagian dari Karesidenan Palembang di bawah pemerintahan kolonial Belanda sesuai perjanjian yang diadakan pada tanggal 18 Mei 1823. Pelaksanaan perjanjian ini terjadi pada tanggal 7 Oktober 1823. Tindakan Belanda ini membawa konsekuensi kemarahan yang terpendam di keluarga Sultan. Pada bulan November 1824 terjadi reaksi atas perjanjian tersebut.
Tanggal 21 November 1824 Sultan dibantu keluarga serta alim-ulama menyerbu ke garnisun Belanda di Benteng Kuto Besak. Serangan ini tak membawa hasil, Sultan Najamuddin IV melarikan diri ke daerah Ogan. Akan tetapi karena ditinggalkan pengikut-pengikutnya, kemudian menyerah kepada Belanda pada bulan Agustus 1825.
Adanya peristiwa-peristiwa yang memusingkan pemerintah kolonial ini, Belanda tidak dapat mempercayai Pangeran Kramo Jayo dan Belanda menuduhnya terlibat. Kemudian ia dipecat dan dibuang ke Jawa pada tahun 1851. Dengan demikian habislah sisa-sisa peranan kekuasaan Kesultanan Palembang dan berganti dengan kekuasaan kolonial Belanda secara mantap.

2.4 Sejarah Pasar 16 Palembang
Pada dasarnya, pasar adalah suatu tempat pertemuan antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli dan jasa. Sedangkan dalam pengertian secara luas, pasar adalah tempat bertemunya penjual yang mempunyai kemampuan untuk menjual barang/jasa dan pembeli yang melakukan uang untuk membeli barang dengan harga tertentu. Salah satu contoh pasar terbesar di Palembang yaitu pasar 16 yang berada dikawasan 16 ilir kota Palembang.Pasar 16 mempunyai nilai sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat Sumatera Selatan khususnya Palembang. Perkembangan pasar tersebut berawal dari periode tahun 1552-1821 yang merupakan masa Kesultanan Palembang. Pada masa tersebut daerah pasar 16 adalah lingkungan permukiman pribumi di tepian sungai antara lain sungai musi dan beberapa anak sungai Musi yaitu sungai Tengkuruk, sungai Rendang, sungai Sekanak dan lainnya. Kemudian pada periode tahun 1821–1950 merupakan masa kolonial Belanda pra kemerdekaan.
Pasar 16 sering dikenal juga dengan sebutan pasar tengkuruk karena gedung-gedung atau rumah toko (ruko) tampak bersejajar menghadap tepian Sungai Tengkuruk. Jika dilihat dari arah pertigaan Jl. Masjid Lama (saat ini), di sepanjang tepian sungai sebelah kiri, berjajar pertokoan. Sedangkan di bagian kanan, tampak rumah-rumah panggung. Di bagian lain sungai itu, tampaklah tangga raja (hingga kini masih dinamakan demikian meskipun sudah tak ada lagi sungai dan tangganya). Tangga ini berfungsi sebagai tempat naik turunnya para pembesar Kesultanan Palembang Darussalam.
Perekonomian 16 Ilir dan sekitarnya sesungguhnya sudah dimulai sejak Kimas Hindi Pangeran Ario Kesumo Abdulrohim memindahkan pusat kekuasaan dari 1 Ilir yang dibakar habis oleh VOC tahun 1659 ke Kuto Cerancang (kini kawasan Beringin Janggut, Masjid Lama dan sekitarnya) pada tahun 1662. Denyut perekonomian itu makin terasa saat cucu Kimas Hindi Sultan pertama Palembang yang bergelar Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam yaitu Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo memindahkan keraton ke Kuto Kecik, seiring pembangunan Masjid Agung pada tahun 1738.
Setelah menaklukkan Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1821, Belanda kemudian mengangkat potensi perekonomian di kawasan itu. Dimulailah pembangunan dengan planologi yang disesuaikan dengan keadaan semula. Sebagai daerah perdagangan, dibangunlah pertokoan dan perkantoran di sepanjang tepian Sungai Tengkuruk. Seperti lazimnya perkembangan pasar saat ini, perdagangan di Pasar 16 Ilir berawal dari “pasar tumbuh”, yang terletak di tepian Sungai Musi (sekarang Gedung Pasar 16 Ilir Baru hingga Sungai Rendang, Jl Kebumen). Pola perdagangan di lokasi itu, setidaknya hingga awal 1900-an, dimulai dari berkumpulnya pedagang “cungkukan” (hamparan), yang kemudian berkembang dengan pembangunan petak permanen. Los-los mulai dibangun sekitar tahun 1918 dan dipermanenkan sekitar tahun 1939.
Pasar di Palembang mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, paling tidak pada 1932. Renovasi awal Pasar 16 ilir yang terletak di tepi Sungai Musi dilakukan pada 1871 dengan dilengkapi sebuah dermaga besar. Sebagian besar pertokoan di Pasar 16 Ilir dibangun dan dimiliki oleh saudagar keturunan Arab dan Syeikh Syehab. Syeikh ini juga yang menjadi pemborong perumahan Eropa di Talang Semut. Pertokoannya di Pasar 16 disewakan kepada pedagang kecil Palembang. Kini banyak peninggalan bangunan yang masih terlihat di Pasar 16, masih banyak di temui bangunan berasi tektur Eropa, Timur Tengah dan Cina di lokasi Pasar 16 Ilir. Contoh tekstur bangunan China tersebut yaitu terdapat pada bentuk ventilasi yang lebar karena Palembang memiliki cuaca yang cukup panas, dan jendela yang besar adalah ciri jendela di bangunan tropis tinggalan kebudayaan Indies jaman Belanda. Menurut Djohan Hanafiah, seorang budayawan Palembang, memperkirakan bangunan ruko di pasar baru kawasan pasar 16 Ilir Palembang dibangun sekitar tahun 1828. Selain itu, ditemukan ruko bertuliskan tahun 1924 yang tidak diketahui oleh masyarakat sejarahnya dan diperkirakan itu merupakan salah satu ruko tua di Pasar 16.
Selain itu, masih ada peninggalan sebuah tugu persembahan masyarakat Ilir Timur dan sekitarnya yang dibuat pada tahun 1947. Tugu tersebut merupakan Tugu Pertempuran Lima Hari Lima Malam, mengenang Lettu Djoko Soerodjo. Berdasarkan gambar dari tugu tersebut, terlihat seorang pahlawan yang meninggal karena ditembak musuh dikepalanya pada waktu pertempuran. Bangunan itu berada didekat parkiran mobil Pasar 16.
Sekarang Pasar 16 Ilir merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di kota Palembang. Kawasan pasar 16 Ilir telah menjadi pusat perniagaan Palembang. Selain tempatnya yang strategis, pasar ini mempunyai bangunan utama yang megah dan ratusan ruko yang menjual beraneka ragam barang dagangan. Setiap hari, situasi pasar tersebut sangat ramai dengan pedagang dan pembeli.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perubahan dari masa ke masa pasti mengalami perbedaan yang jelas, apalagi perubahan tersebut berjalan pada waktu yang lama. Perubahan terlihat dalam perubahan situasi dan kondisi tempat tersebut. Tetapi dalam suatu sejarah pasti ada warisan yang tertinggal dalam hal tersebut. Keramaian para penjual dan pembeli di pasar pun mempunyai suatu sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat di Palembang, pasar tersebut adalah Pasar 16.
Pasar 16 merupakan salah satu pasar tradisional besar di Palembang, dimana para pedagang dan pembeli melakukan transaksi jual beli setiap hari. Pasar 16 yang berada di tepian sungai Musi sangat berpengaruh pada perdagangan kota Palembang, sejak zaman Kerajaan Sriwijaya masyarakat Palembang sudah kaya akan perniagaannya setelah itu ketika Belanda menaklukan Kesultan Palembang Darusalam maka mereka mengembangkan potensi perniagaan dikawasan tersebut, dan hingga sekarang perniagaan di Palembang terus berkembang dan semakin maju. Suatu warisan yang tak ternilai harganya bagi Palembang adalah suatu perniagaan yang menjadi pusat perekonomian masyarakat daerah Palembang dan sekitarnya. Suatu istilah dari orang luar Palembang mengatakan bahwa “Rasonyo idak ke Palembang kalu idak mamper ke Pasar 16.”
Saat ini pasar 16 mempunyai beberapa peninggalan bangunan lama, contohnya bentuk rumah yang berteksturkan China, Indies, bahkan Eropa. Salah satu bangunan tersebut mempunyai ventilasi lebar sebagai tekstur China, dengan tujuan memberikan udara yang cukup diruangan karena Palembang merupakan kota tropis yang memiliki cuaca yang cukup panas. Satu tugu masih berdiri di Pasar 16 Palembang yang dibangun tahun 1947, tugu tersebut merupakan peninggalan masyarakat Ilir Timur yang mengenang pahlawan yang telah berkorban didaerah mereka.

3.2 Saran
Sebagai saran saya kepada masyarakat adalah kita harus tetap menjaga kelestarian dan kebersihan Pasar 16, karena itu merupakan salah satu tempat penting dari masa lalu hingga sekarang. Mari kita tumbuhkan kesadaran diri untuk merawat peninggalan sejarah. Selain itu, kepada pemerintah juga harus terus menghimbau warga masyarakat agar selalu ingat untuk melestarikan bangunan bersejarah. Pemerintah dapat membuat pamflet-pamflet sebagai upaya pengingat masyarakat apa yang seharusnya mereka lakukan.
Masa dari tahun ketahun selalu berubah, globalisasi pun terus mempengaruhi kehidupan di dunia. Tetapi sebagai generasi penerus bangsa, pemuda pemudi Indonesia harus memperhatikan sejarah bangsa. Sebagai putra dan putri daerah Palembang, kita harus menjaga warisan dari masa lalu. Oleh karena itu, Pasar 16 sebagai warisan niaga Palembang harus kita ketahui jejak masa lalunya dan menjaganya sebagai peninggalan yang sangat berharga.
DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Bagian Hubungan Masyarakat Pemda Dati II Kotamadya Palembang. 1997. Petunjuk Kota Palembang, Palembang: Pemerintahan Kotamadya Dati II Palembang.
Irwanto, Dedi. 2011. Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Pascakolonial. Yogyakarta. Ombak.
Lapian, Adrian Bernardus. 2009. Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Depok. Komunitas Bambu.
Tanjung, Ida Liana. 2006. Palembang dan Plaju: Modernitas dan Dekolonisasi Perkotaan Sumatera Selatan, Abad ke-20. Tesis Pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Website:
Berakhirnya kesultanan Palembang Darusalam, http://infokito.wordpress.com/2007/11/22/berakhirnya-kesultanan-palembang-darussalam/-795 , diakses tanggal 16 Oktober 2011.
Kerajaan Sriwijaya, http://awidyarso65.files.wordpress.com/2009/02/modul-kerajaan-sriwijaya.pdf, diakses tanggal 8 Oktober 2011.
Pasar 16 Ilir Palembang, http://sinarmusiampera.blogspot.com/2009/02/pasar-16-ilir-palembang.html, diakses tanggal 11 Oktober 2011.
Pengertian Pasar, http://id.shvoong.com/business-management/2003665-pengertian-pasar/ diakses tanggal 10 Oktober 2011.
Perkembangan Pasar 16 Ilir Palembang, http://dodinp.multiply.com/journal/item/198/Perkembangan_Pasar_16_Ilir_Palembang?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitm, diakses tanggal 14 Oktober 2011.
Sejarah Pasar 16 Ilir Palembang, http://greenpug.blogspot.com/2011/01/sejarah-pasar-16-ilir-palembang.html, diakses tanggal 10 oktober 2011 dan 12 Oktober 2011.

Wawancara:
Bapak Muhammad Bagir, seorang pedagang pakaian jadi toko Jack di Pasar 16, tanggal 16 Oktober 2011.
Bapak Abi sofyan, seorang pemandu turis di museum Sultan Mahmud Badarudin II tanggal 16 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s