”SI KECIL YANG HITAM, DARI LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI MEDIA UNTUK MENGURANGI KADAR ZAT PENCEMAR AMMONIA (NH3) DALAM LIMBAH AIR”

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara agrikultur yang sangat kaya akan sumber alam khususnya dari sektor pertanian dan perkebunan. Tak heran jika Indonesia memproduksi macam macam dari sisa pembuangan  seperti ampas padi, jerami, serbuk gergaji dari sektor pertanian, tempurung kelapa sawit, biji alpukat dan kulit pisang dari sektor perkebunan.

Limbah kulit pisang merupakan biomassa yang awalnya derivatif dari pisang yang telah di ambil dari kulit pisang. Bahan ini sangat memungkinkan untuk didapat dalam jumlah besar di Indonesia, karena Indonesia adalah salah satu negara terbesar dalam memproduksi buah pisang. Di Indonesia, buah pisang adalah ketiga terbesar dari hasil produksi pertanian setelah padi dan singkong. Produksi buah pisang di Indonesia sekitar 6.7 juta matrik ton yang dihasilkan selama setahun. (www.wikipedia.com/banana)

Sekarang ini, limbah kulit pisang belum banyak dimanfaatkan karena masyarakat masih beranggapan bahwa kulit pisang hanyalah limbah yang bisa menyebabkan pencemaran lingkungan, walaupun beberapa kalangan telah menggunakannya sebagai pakan ternak domestik. Limbah biasa seperti ini umumnya dibakar begitu saja tanpa diolah ulang oleh masyarakat. Ketika dibakar, kulit pisang ini pun bisa menyebabkan gangguan kesehatan. Penyebab negatif yang bisa terjadi jika limbah kulit pisang tidak diproses, adalah kulit pisang bisa mengganggu kesehatan ketika  kulit pisang dibakar. Kelembapan dari kulit pisang akan mempengaruhi partikel partikel yang tidak terbakar. Partikel – partikel dari kulit pisang yang tidak terbakar tersebut terbang ke udara. Hal tersebut dapat menyebabkan hidrokarbon yang berbahaya. Pada faktanya, kulit pisang mengandung 50.6% karbon per 100 gram beratnya. Jadi, kulit pisang bisa digunakan sebagai bahan utama dari karbon aktif. Kebutuhan dari karbon aktif sebagai benda penyerap sangat meningkat sekarang ini, khususnya dalam bidang kedokteran, tekstil, makanan, maupun pengolahan limbah.

Limbah air yang terkontaminasi zat ammonia sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Kapasitas racun yang terkandung dalam limbah air akan bertindak sebagai penghambat kinerja enzim, yang akan mengakibatkan proses metabolisme di dalam tubuh akan berhenti. Zat ammoniadapat berubah menjadi penyebab dari alergi, mutagen, teratogen ataupun karkinogen bagi manusia. Hal tersebut akan terjadi pada tubuh manusia seperti kulit, pernapasan maupun pencernaan kita. Hal ini terjadi jika sebuah lingkungan, khususnya air, telah terkontaminasi oleh zat ammonia, yang dapat mengakibatkan proses penjernihan akan menjadi sangat sulit untuk di kerjakan. Zat ammonia merupakan salah satu zat pencemar yang terkandung pada limbah air,yang biasanya terkontaminasi dengan air bersih yang ada disekitar masyarakat. Oleh karena itu, proses penjernihan zat pencemar ammonia dalam limbah air bisa di lakukan oleh penyerapan dengan menggunakan penyerap karbon aktif.

Alternatif ini menggunakan limbah kulit pisang sebagai bahan utama dalam pembuatan karbon aktif sebagai solusi yang diharapkan. Pembahasan dalam penelitian ini adalah proses pembuatan limbah kulit pisang menjadi karbon aktif melalui pengfungsian proses kimia yang menggunakan aktifator dan pengaplikasiannya dalam daur ulang limbah air yang mengandung impuritas zat ammonia.

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penulisan Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja (LKIR) ini, penulis mengangkat judul SI KECIL YANG HITAM, DARI LIMBAH KULIT PISANG SEBAGAI MEDIA UNTUK MENGURANGI KADAR AMONIA(NH3) DALAM LIMBAH AIR, yang memiliki makna penggantian bahan baku karbon aktif yang memanfaatkan kulit pisang secara efektif dengan tetap mempertahankan fungsi dan keistimewaan dari karbon aktif tersebut.

 

 

 

 

 

1.2  Rumusan Masalah

Adapun masalah yang didapat sebagai berikut :

1. Apa jenis pisang yang terbaik untuk proses penyerapan kandungan Ammonia (NH3) dalam limbah air?

2. Apa aktifator terbaik bagi karbon aktif guna menyerap kandungan  Ammonia (NH3)?

3. Bagaimana hasil uji karbon aktif dari limbah kulit pisang terhadap penyerapan Ammonia (NH3) dalam limbah air?

4.   Bagaimana karakteristik dan kualitas karbon aktif dari limbah kulit pisang?

 

1.3 Tujuan

Beberapa tujuan dari penelitian ini antara lain :

1. Mengetahui jenis pisang yang terbaik untuk proses penyerapan kandungan Ammonia (NH3) dalam limbah air

2. Mengetahui aktifator terbaik bagi karbon aktif guna menyerap kandungan  Ammonia (NH3)

3. Mengetahui hasil uji karbon aktif dari limbah kulit pisang terhadap penyerapan Ammonia (NH3) dalam limbah air

4.  Mengetahui karakteristik dan kualitas karbon aktif dari limbah kulit pisang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Pisang

Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. paradisiaca) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan pangan merupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama kalium.(www.wikipedia.com/pisang)

           

Kingdom         : Plantae

Division           : Magnoliophyta

            Sub divison     : Angiospermae

Kelas               : Liliopsida

Ordo                : Zingiberales

            Family             : Musaceae

            Genus              : Musa

            Species            : Musa sp.       

 

Pisang adalah tumbuhan yang mengandung banyak karbohidrat sekitar 68,7 % dari beratnya  dan pohon pisang sendiri dapat tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Indonesia adalah salah satu Negara terbesar dalam memproduksi buah pisang di dunia.Buah pisang adalah ketiga terbesar dari produksi pertanian Indonesia setelah padi dan singkong.Jumlah produksinya sekitar 6,7matrik ton per tahun. (www.wikipedia.com/banana)

Pisang memiliki banyak kandungan yang berguna bagi tubuh dan memiliki banyak manfaat. Dalam buah pisang mulai dari rhizome yang dimilikinya sampai kulit pisang dapat kita ambil manfaatnya.Daging buahya sebagai makanan, kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka pisangdengan proses fermentasi, bonggol pisang dapat dijadikan soda sebagai bahan baku sabun dan pupuk kalium. Batangnya dapat digunakan sebagai penghasil serat bahan baku kain dan makananternak, daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus makanan tradisional Indonesia, kemudian air umbi batang pisang yang dapat digunakan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar dan air batang pisang yang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.Buah Pisang juga mengandung tiga jenis gula alami yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa yangdikombinasikan dengan fiber.Pisang dapat memberikan tambahan energi langsung yang cukup banyak. Namun bukan hanya energi yang dihasilkan, buah pisang juga dapat menjaga tubuh selalufit dan dapat membantu untuk mencegah beberapa penyakit.

Berikut ini adalah beberapa kandungan dalam buah pisang dan manfaatnya:

Tabel. 1 Kandungan dan Manfaat Pisang

Zat

Kandungan per 100 gram

Manfaat

Air

72 gram

Mencegah dehidrasi

Karbohidrat

25.80 gram

Sebagai sumber energy

Vitamin C

3.00 mg

Mencegah sariawan

Tryptphan

0.031 mg

Menangani depresi

Vitamin B

0.08 mg

Mencegah ketegangan urat syaraf

Vitamin B6, B12

0.4 mg

Mencegah efek nikotin

Zat Besi (Fe)

0.50 mg

Mencegah Anemia

Potassium

358 mg

Mengurangi darah tinggi, stress dan stroke

Fiber

2.6 gram

Mencegah ganguan pencernaan

 

2.2  Kulit Pisang

Kulit pisang seperti kita tahu merupakan produk buang dari buah pisang dimana terkandung banyak karbohidrat didalam kulit pisang. Karbohidrat yang terkandung dalam kulit pisang sekitar 25.80 gram per 100 gram beratnya.(en.wikipedia.com/banana). Persentase bagian kulit pisang yaitu 3 – 4 % dari total berat buah pisang dalam keadaan segar sebesar 9 – 16 %.

Walaupun limbah kulit pisang bisa di gunakan sebagai pakan ternak domestik, bukan berarti limbah kulit pisang tidak mempunyai dampak negatif. Dampak negatif yang kemungkinan terjadi adalah ketika proses pembakaran limbah kulit pisang, hal itu akan mengganggu kesehatan. Kelembapan dari limbah kulit pisang mempengaruhi partikel partikel yang tidak terbakar terbang ke udara, oleh karena itu limbah kulit pisang yang tidak diproses dapat menyebabkan reaksi hydrocarbon yang berbahaya. Partikel partikel tersebut dapat dilihat dalam bentuk asap maupun gas yang kasat mata. Jika kita membakar limbah dengan tidak sesuai, hal itu akan merusak kesehatan kita.

 

2.3  Amonia

Amonia adalah suatu gas tidak berwarna/pucat dengan suatu karakteristik berbau menusuk. Zat amonia mempunyai karakter seperti lebih ringan dari udara, massa jenis amonia  menjadi 0.589 kali itu udara. Amonia sering kali tercampur dengan air yang dapat mencemari air tersebut hingga tidak layak dipakai lagi.Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus NH3.Biasanya senyawa ini didapati berupa gas dengan bau tajam yang khas (disebut bau amonia).Walaupun amonia memiliki sumbangan penting bagi keberadaan nutrisi dibumi, amonia sendiri adalah senyawa kaustik dan dapat merusak kesehatan. Administrasi Keselamatan dan Kesehatan Pekerjaan Amerika Serikat memberikan batas 15 menit bagi kontak dengan amonia dalam gas berkonsentrasi 35 ppm volume, atau 8 jam untuk 25 ppm volume. Kontak dengan gas amonia berkonsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan bahkan kematian. Sekalipun amonia di AS diatur sebagai gas tak mudah terbakar, amonia masih digolongkan sebagai bahan beracun jika terhirup, dan pengangkutan amonia berjumlah lebih besar dari 3.500 galon (13,248 L) harus disertai surat izin.[6]

Amonia yang digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini menunjukkan tidak adanya air pada bahan tersebut.Karena amonia mendidih di suhu -33 °C, cairan amonia harus disimpan dalamtekanan tinggi atau temperatur amat rendah. Walaupun begitu, kalor penguapannya amat tinggi sehingga dapat ditangani dengan tabung reaksibiasa di dalam sungkup asap. “Amonia Rumah” atau amonium hidroksida adalah larutan NH3 dalam air.Konsentrasi larutan tersebut diukur dalam satuan baumé.Produk larutan komersial amonia berkonsentrasi tinggi biasanya memiliki konsentrasi 26 derajat baumé (sekitar 30 persen berat amonia pada 15.5 °C).[7] Amonia yang berada di rumah biasanya memiliki konsentrasi 5 hingga 10 persen berat amonia.

Amonia umumnya bersifat basa (pKb=9.25), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=4.75)

 

Tabel 2. Karakteristik Zat Amonia (NH3)

Karakteristik Amonia (NH3)

Massa jenis atau fase

0,69452 g/L, gas

Kelarutan dalam air

89.9 g/100 ml pada 0 °C.

Titik Lebur

-77.73 °C (195.42 K)

Titik Didih

-33.34 °C (239.81 K)

Keasaman (pKa)

4.25

Kebasaan (pKb)

9.75

 

 

2.4 Sejarah karbon aktif

Pada abad ke-15, diketahui bahwa arang aktif (karbon aktif) dapat dihasilkan dari komposisi kayu dan dapat digunakan sebagai adsorben warna dari larutan. Kemudian pada tahun 1974, dikembangkan aplikasi komersial baru yaitu industri gula sebagai pemucat dan menjadi sangat terkenal karena kemampuannya menyerap uap gas beracun yang digunakan pada Perang Dunia I. Kemudian pada abad ke-20, material hangus itu justru semakin luas penggunaannya. Riset terbaru menyatakan, arang dapat diubah menjadi penghantar zat antikanker pada tubuh manusia.Penggunaan arang sebagai obat sebenarnya bukanlah hal baru.Sejak 1000 SM, masyarakat Mesir menggunakan arang sebagai penyembuh luka dan pembersih usus halus setelah makan.Lalu, 1100 tahun kemudian Hipocrates menggunakan barang kelam itu untuk perawatan pengidap epilepsi, klorosis dan antraks. Pada tahun 1831, di depan pelajar di French Academy of Medicine, Professor Touery berdemonstrasi minum racun strychnine yang dicampurkan butiran hitam asal pembakaran. Hasilnya, ia tetap hidup dikarenakan arang tak berbau dan tak berasa mampu menyerap 60%  zat beracun di dalam tubuh yang masuk ke seluruh jaringan pencernaan. Menurut Richard C. Kaufman, Ph. D dari National Health Federation, Minessota, Amerika Serikat, arang terbukti bersifat antipenuaan dan memperpanjang umur sebanyak 40% hewan percobaan. Hal itu dikarenakan arang menjaga sensitivitas tubuh dari bahan kimia dan racun yang merusak sel tubuh.Di Jepang misalnya, arang merupakan komponen utama upacara minum teh sejak tahun 1522.Arang yang digunakan harus tak berbau, tak berbunyi dan tak berasap.

Namun perlu diingat, arang biasa berbeda dengan arang aktif (karbon aktif) karena arang aktif (karbon aktif) relatif aman bila dibandingkan dengan arangbiasa.(www.cee.vt.edu/ewr/environmental/teach/gwprimer/…/achistory.htm)

2.5    Karbon Aktif

Karbon aktif (activated carbon) adalah bahan padat berpori yang merupakan hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon. Karbon aktif merupakan suatu bentuk arang yang telah melalui aktivasi dengan menggunakan gas CO2, uap air atau bahan-bahan kimia sehingga pori-porinya terbuka dan dengan demikian daya adsorbsinya menjadi lebih tinggi terhadap zat warna dan bau. Saking efektifnya karbon tersebut,  ia sangat aktif dalam menyerap apa saja yang kontak dengannya. Karbon aktif biasanya dikemas dalam kemasan kedap udara untuk mencegah kejenuhan yang membuatnya tidak aktif kembali.

Karbon aktif merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahanyang mengandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi (Chand dkk, 2005).Beberapa limbah hasilpertanian seperti jerami padi, jerami gandum, kulit kacang, bambu dan serabut kelapa dapat dimanfaatkam menjadiproduk karbon aktif dan telah dikaji secara mendalam dengan berbagai prosedur yang berbeda (Yalçin, 2000;Lartey, 1999; Baksi dkk, 2003).

 

Adapun tahapan-tahapan pembuatan pada karbon aktif adalah:

  1. 1.      Karbonisasi

    Menurut Astuti (1990), proses karbonasi sempurna adalah pemanasan bahan baku tanpa adanya udara sampai temperature yang cukup tinggi untuk mengeringkan dan menguapkan senyawa dalam karbon. Pada proses ini terjadi dekomposisi termal dari bahan yang mengandung karbon dan menghilangkan spesies non-karbonnya. Pada bahan baku berupa Kulit pisang dilakukan proses karbonisasi dengan suhu bervariasi antara 100 sampai dengan 3000 C.

  1. 2.      Penggilingan (Crushing)

Dengan mesin penggiling crusher ataupun menggunakan mortar, karbon dihaluskan menjadi tepung (flour). Kemudian dengan menggunakan saringan, karbon dipisahkan antara yang halus dan yang kasar. Karbon yang kasar dimasukkan kembali ke dalam penggilingan sedangkan karbon yang telah halus siap diaktivasi atau melalui granulasi maupun ekstrusi.

3. Granulasi                                                 

Dengan menggunakan tumbling machine tepung arang dapat dibuat butiran (granular) dimana besar butiran disesuakan keinginan.

4. Ekstrusi

Dengan mesin extruder  tepung karbon dapat dibuat pellet. Sama seperti sebelumnya, besar kecilnya ukuran dapat disesuaikan keinginan.

5. Aktivasi

Proses ini bertujuan untuk meningkatkan volume dan memperbesar diameter pori setelah mengalami proses karbonisasi dan meningkatkan penyerapan.

 

Ada dua cara aktivasi pada karbon aktif, yaitu:

 

  1. a.      Aktivasi kimia

Pada cara ini arang hasil karbonisasi direndam dalam larutan aktivasi selama 10 jam lalu ditiriskan dan dipanaskan pada suhu 1100C selama 1-2 jam.

  1. b.      Aktivasi fisika

Proses ini menggunakan gas aktivasi misalnya uap air atau CO2 yang dialirkan pada arang hasil karbonasi. Menurut Bansal (1998), proses ini berlangsung pada temperature 100-3000C. Pada proses ini karbon akan mengalami proses pembentukan pori-pori (developed porous structure ), karbon akan ditreatmen dengan oksidasi gas, seperti steam, CO2, dan O2 pada suhu elevasi. Di dalam proses aktivasi karbonmengalami reaksi dengan zat pengoksidasi dan hasil reaksi CO2menghamburkan pembentukan luas permukaan karbon. Akibat gasifikasi daripartikei arang, granul atau butiran membentuk “pori-pori dalam” pada arang,maka inilah yang disebut arang aktif (Activated Carbon). Proses aktivasi ini akan berlangsung secara berkesinambungan karena reaksi arang menjadi CO2 adalah eksotermis.

6. Pengemasan

Sebelum pengemasan, karbon aktif diklasifikasi dulu kemudian dikemas sesuai dengan jenisnya menggunakan pengemas yang kedap udara supaya terjaga keaktifannya.

 

2.6    Spesifikasi Karbon Aktif

Banyaknya bermunculan proses industri di dalam dan di luar negeri semakin meningkatkan kebutuhan akan karbon aktif. Ini mengakibatkan semakin banyak pula peluang untuk memproduksi dan memasarkan karbon aktif tersebut guna memenuhi permintaan yang telah ada.Permintaan yang sangat besar, baik domestik maupun internasional, menjadikan tingkat persaingan dalam memproduksi karbon aktif juga semakin membaik.Kompetisi pasar saat ini telah didukung dengan dikeluarkannya Standard Industri Indonesia (SII) yang mencakup persyaratan-persyaratan minimum yang harus dipenuhi untuk menjaga kualitas produk arang aktif.

Menurut SII No. 0258-79, arang aktif yang baik mempunyai persyaratan seperti yang tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel.3 Spesifikasi karbon aktif

Jenis

Persyaratan

Bagian yang hilang pada pemanasan 8500 C

Maksimum 15%

Air

Maksimum 10 %

Kandungan karbon

Minimal 60 %

Abu

Maksimum 2,5 %

Bagian yang tidak diperarang

Tidak nyata

Daya serap terhadap larutan I2

Minimum 20 %

 

2.7 Aplikasi Karbon Aktif

Karbon aktif memiliki peranan penting dalam membantu kehidupan khalayak banyak dimana pengaplikasian benda hitam berpori ini dapat memberikan berbagai kegunaan dan keuntungan yang besar dalam kehidupan manusia sehari-hari, terutama dalam bidang industri seperti yang tercantum dalam Tabel.4 berikut ini.

Tabel.4 Aplikasi penggunaan karbon aktif dalam industri

No.

Pemakai

Kegunaan

1.

Minuman ringan

Penghilangan warna dan bau pada minuman

2.

Pembersih air

Penghilangan warna, bau

penghilang resin

3.

Pemurnian gas

Menghilangkan sulfur, gas beracun, bau busuk, asap dan pencegahan racun.

4.

Pembersih udara

Bahan pembersih di ruangan yang kandungan uap air dan gas berbau/beracunnya tinggi

5.

Industri pengolahan limbah cair

Membersihkan air buangan dari zat pencemar yang berwarna, berbau dan mengandung zat beracun serta logam berat.

6.

Industri Gas Alam Cair(LNG)

Desulfurisasi, penyaringan berbagai bahan mentah dan reaksi gas.

7.

Industri minyak goring

Karbon aktif dicampur dengan bleaching earth, sangat efektif dan ekonomis untuk menghilangkan peroksida, zat warna,rasa, dan bau yang tidak enak akibat proses sponifikasi

 

2.8    Bahan baku karbon aktif

1.Serbuk Kayu Gergaji dan Potongan-potongan Kayu

Bahan baku jenis ini, masuk dalam kriteria batasan-batasan layak. Yaitu mudah untuk diakses dan berkesinambungan, terdapat banyak di Indonesia sebagai negara yang kaya akan kayu hutan. Bahan ini didapatkan sebagai limbah dari industri pengolahan kayu, baik industri hulu seperti industri penggergajian kayu, industri kayu lapis maupun industri hilir seperti industri pembuatan lantai kayu dan industri furniture serta industri barang-barang lain yang terbuat dari kayu. Melimpahnya serbuk gergaji dan potongan-potongan kayu sebagai limbah industri penggergajian kayu di Indonesia baik di luar Jawa maupun di pulau Jawa, ini merupakan bahan baku yang renewable(yang dapat diperbaharui) sangat menguntungkan dari segi ekonomi dan lingkungan hidup, memberikan dampak positip pada sektor ketenaga kerjaan dan angkutan.

2.Kulit pisang

Bahan baku ini juga banyak tersedia hampir di seluruh wilayah Republik Indonesia, walaupun harganya lebih mahal sedikit dari serbuk gergaji, tetapi mempunyai spesifikasi dan massa jenisyang bagus. Bahan baku ini juga masuk dalam tiga kriteria yaitu kualitas, biaya dan akses untuk mendapatkan bahan baku yang kesemuanya sudah terpenuhi .

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui manfaat dari masing-masing bahan. Namun perlu diketahui ketidakterbatasan akan kuantitas kulit pisang terus meningkat dari tahun ke tahun membuat kami memilih bahan ini sebagai sumber alternatif baru.

2.9 Konsentrasi pada Larutan

1.Molaritas

Molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan.Kemolaran dinyatakan dengan lambang M dan satuan mol L-1 (Purba, Michael 2007).

M = n/V

                                                                                                             

 

Pengenceran menyebabkan volume dan kemolaran larutan berubah, tetapi jumlah zat terlarut tidaklah berubah. Oleh karena pengenceran tidak mengubah jumlah mol zat terlarut, maka n1 = n2 atau V1M1 =  V2M2 (Purba, Michael 2007).

M = ρ x 10 x kadar / mm

 

Kemolaran larutan pekat dapat ditentukan jika kadar dan massa jenisnya diketahui, yaitu dengan menggunakan rumus:

 

 

 

Dengan M = kemolaran, ρ = massa jenis, kadar = % massa, mm = massa molar (Purba, Michael 2007).

 

Rumus Molaritas lainnya adalah :

 

( Chem-Is-Try.Org 2008)

 

 

Jumlah mole = massa / massa 1    

mole

 

 

 (Gallagher,RoseMarie 2007)

2.Normalitas

Normalitas (N) merupakan jumlah mol-ekivalen zat terlarut per liter larutan. Terdapat hubungan antara Normalitas dengan Molaritas, yaitu :

 

 

( Chem-Is-Try.Org 2008)

3. Titrasi         

Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat.  Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetric (www.wikipedia.com, 2008).

Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan di erlenmeyer  dan disebut sebagai analit (www.wikipedia.com, 2008).

Untuk mengetahui titik ekivalen, dapat digunakan indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa adalah indikator yang perbahan warnanya dipengaruhi oleh pH. Penambahan indicator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah dua hingga tiga tetes. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan warna indikator disebut sebagai titik akhir titrasi (ekoph, 2008

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1       Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan pada Bulan Maret hingga Bulan April 2012 di Laboratorium Kimia SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) sebagai tempat pengaktifasian karbon aktif dan pembuatan larutan serta sebagai tempat pengarbonisasian karbon aktif.

 

3.2       Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah oven, neraca digital, gelas ukur 25 ml, gelas ukur 100 ml, labu ukur 250 ml, spatula, beaker, corong, kertas saring, labu Erlenmeyer, stopwatch, PH indikator universal, cawan patri, Buret 50 ml, statif, scientific calculator, pipet tetes, 12 botol berukuran 100 ml.

Adapun Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 100 gram Kulit pisangputri ,100 gram kulit pisang tanduk, 100 gram kulit pisang udang ,1 botol HCl dengan konsentrasi 36 %, Larutan KOH 4M 250 ml. , Larutan NaOH 0.1M 250 ml. , Larutan H2SO4 0.1M 250 ml. ,8 botol air suling/aquades  (@1 liter), air biasa, dan 1 botollarutan NH3 dengan konsentrasi 25%.

 

3.3   Tahapan pembuatan Karbon Aktif

4.3.1  Persiapan limbah kulit pisang

100 gram limbah kulit pisang dari masing masing sampeldibersihkan dan dicuci dengan menggunakan 500 ml air suling / aquadest.Kemudian di potong dengan ukuran 2×2 cm.

 

3.3.2  Pengeringan

100 gram limbah kulit pisang yang telah bersih dari masing – masing sampel dikeringkan pada sinar matahari selama 3 hari.Kemudian, dilakukan penimbangan berat dengan menggunakan neraca digital terhadap masing-masing sampel. Hasil penimbangan menunjukkan bahwa berat masing masing dari sampel kulit pisang yaitu, berat kulit pisang jenis pisang putri sebesar40,1Gram, berat kulit pisang jenis pisang udang sebesar 47,8Gramdan Berat kulit pisang jenis Pisang Tanduk sebesar 36,6 Gram. Untuk lebih jelas lihat tabel di bawah ini .

 

Tabel.5 Perlakuan Pengeringan terhadap masing masing sampel kulit pisang.

Jenis

Berat Awal (Gram )

Berat setelah pengeringan (Gram)

Kulit Pisang Tanduk

100

36,6

Kulit Pisang Udang

100

47,8

Kulit Pisang Putri

100

40,1

 

Kemudian untuk meminimalisirkan kadar air yang terkandung dalam masing- masing sampel kulit pisang, dilakukanpengovenan dengan cara memasukkan masing – masing sampel kulit pisang  kedalam oven dengan suhu 1500 C dengan lama waktu 30 menit.

 

3.3.3  Karbonisasi

            Setelah semua kulit pisang telah dikeringkan, masing – masing sampel kulitpisang dilakukan pengovenandalam hal pengarbonan dengan suhu 3000C selama 2jam.36.6 gram limbah kulit pisang jenis pisang Tandukyang sudah kering, dipanaskan didalam oven dengan suhu 3000C selama 2 jam.Karbon yang dihasilkan 13.2Gram (kita sebut karbon A).47.8  gram limbah kulit pisang jenis pisang Udang yang sudah kering, dipanaskan didalam oven dengan suhu 3000C selama 2 jam. Karbon yang dihasilkan 15.6 Gram (kita sebut karbon B ). 40.1 gram limbah kulit pisang jenis pisang Tanduk yang sudah kering, dipanaskan didalam oven dengan suhu 3000C selama 2 jam.Karbon yang dihasilkan 14.1Gram (kita sebut karbon C).Seluruh karbon yang dihasilkan pada proses karbonisasi di tiriskan dan dimasukkan kedalam botol 100 ml guna menghindari kontak dengan oksigen yang terlalu lama yang dapat mengurangi kadar serap pada karbon

3.3.4  Aktifasi

Proses aktifasi karbon aktif dilakukan dengan menambahkan masing – masing aktifator  ke dalam masing – masing sampel karbon kulit pisang, hasil karbonisasi lalu kocok dan didiamkan selama 10 jam. Kemudian dilakukan penyaringan terhadap residu untuk selanjutnya dikeringkan.Selanjutnya campuran yang telah di aktifasi disaring dengan menggunakan kertas saring, residu yang diperoleh dibilas dengan aquades hingga PH nya netral dan dikeringkan.

Diagram.1 Tahapan Pembuatan Karbon Aktif.

Setelah dicuci, dilakukan pengeringan dengan bantuan sinar matahari selama 3 hari.

PERSIAPAN KULIT PISANG

100 gram limbah kulit pisang di cuci untuk menghilangkan zat-zat yang melekat pada kulit pisang

PERSIAPAN LKS

 

 

 

 

PENGERINGAN

                                                                                  

PROSES AKTIVASI

PROSES KARBONASI

 

Proses karbonasi dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 300 0C

Proses aktivasi dilakukan dengan menggunakan masing-masing aktifator yang ingin diuji.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Pembuatan Karbon Aktif

4.1.1 Proses Karbonasi

Pertama-tama, 100 Gram dari masing – masing sampel kulit pisang dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hari untuk mengurangi kadarair didalamnya.Kemudian dilakukan pengovenan lagi terhadap masing – masing sampel dari kulit pisang pada suhu 110 0C selama 30 menit guna meminimalisirkan kadar air dalam masing- masing sampel kulit pisang. Setelah semua kulit pisang telah kering dilakukan penimbangan berat pada kulit pisang dengan menggunakan neraca Digital. Hasil penimbangan dari masing – masing sampel kulit pisang dapatlihat pada tabel di bawah ini:

Tabel. 6 berat kulit pisang setelah dehidrasi

Jenis

Suhu (0C)

Berat mula – mula (gram)

Hasil Dehidrasi (gram )

Kulit Pisang Tanduk

300

100

36,6

Kulit Pisang Udang

300

100

47,8

Kulit Pisang Putri

300

100

40,1

 

 Setelah itu dilakukan proses karbonisasi dengan perlakuan yang sama pada suhu 300 0C selama 2 jam terhadap masing – masing dari sampel kulit pisang dengan tujuan untuk mengarangkan kulit pisang menjadi karbon dan membentuk pori pori pada karbon. Pada proses ini dilakukan beberapa percobaan terhadap kulit pisang. Pertama, 36,6 gram kulit pisang jenis Pisang Tandukdilakukan pengovenan dengan suhu 3000C selama 2 jam (kita sebut karbon A). Kedua, 47,8 Gram kulit pisang jenis Pisang Udang dilakukan pengovenan dengan suhu 300 0C selama 2 jam (kita sebut karbon B). Ketiga,40,1 Gram kulit pisang jenis Pisang Putri dilakukan pengovenan dengan suhu 300 0C selama 2 jam (kita sebut karbon C).

Tabel.7 Karbon Hasil Proses Karbonasi

Jenis

Suhu(0C)

Berat Botol (g)

Berat botol + Hasil karbonisasi (g)

Berat Hasil Dehidrasi (g)

Berat Hasil Karbonisasi (g)

Karbon A

300

25.2

40.4

36.6

15.2

Karbon B

300

25.2

47.8

47.8

22.6

Karbon C

300

25.2

30.8

6.0

5.6

 

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa, proses karbonisasi dilakukan dengan menggunakan suhu yang berbeda dengan hasil karbon yang berbeda pula.Karbon A menghasilkan karbon sebanyak 15,2gram dari berat awalnya sebesar 36,6 gram. Karbon B menghasilkan karbon sebanyak 22,6 gram dari berat awalnya sebesar 47,8 gram. Karbon C menghasilkan karbon sebanyak 5,6 gram dari berat awalnya sebesar 6,0  gram. Jadi, dari hasil diatas dapat disimpulkan proses karbonisasi berpengaruh besar pada berat suatu karbon karena kadar airnya berkurang. Besar maupun kecilnya pengurangan kadar air dalam suatu karbon bergantung pada suhu yang digunakan pada saat pemanasan.

Setelah kulit pisang telah mengalami karbonisasi hingga pada waktu yang telah ditetapkan, karbon hasil proses karbonisasi langsung dimasukkan kedalam botol 100 ml. guna mengurangi kontak dengan oksigen yang begitu lama yang dapat mengurangi daya serap karbon tersebut. Setelah itu, karbon hasil proses karbonisasi dapat diaktifasi dengan aktifator yang telah dipersiapkan.

 

4.1.2  Proses Aktifasi Karbon Aktif Kulit Pisang

            Proses aktifasi dilakukan dengan cara menambahkan masing masing karbon terhadap Aktifator yang berbeda guna mencari aktifator yang baik untuk menyerap logam Amonia (NH3), seperti larutan HCl, KOH, H2SO4, NaOH di dalam labu ukur sekitar 10 jam dengan konsentrasi yang berbeda yaitu : HCl (36%) 4M, KOH 4M, H2SO4 0.1 M, NaOH 0.1 M. setelah selesai proses aktifasi terhadap karbon, karbon dikeringkan dan dicuci dengan aquades hingga PH nya netral, kemudian karbon dimasukkan kedalam botol 100 ml kemudian di tutup rapat.

Tabel.8Aktifator yang digunakan dalam proses aktifasi karbon

Variabel

Perlakuan

A

Karbon A + HCl 4M

Karbon A + H2SO4 0.1 M

Karbon A + NaOH 0.1 M

Karbon A + ( KOH 4M + HCL 4 M )

B

Karbon B + HCl 4M

Karbon B + H2SO4 0.1 M

Karbon B + NaOH 0.1 M

Karbon B + ( KOH 4M + HCl 4 M )

C

Karbon C + HCl 4M

Karbon C+ H2SO4 0.1 M

Karbon C + NaOH 0.1 M

Karbon C + ( KOH 4M + HCl 4 M )

          Keterangan    : Karbon A merupakan kulit pisang jenis pisang Putri,

                                      Karbon B merupakan kulit pisang jenis pisang Udang dan   Karbon C merupakan Kulit pisang jenis pisang Tanduk

                                   

            Setelah selesai pengaktifasian karbon dengan aktifator yang telah disebutkan diatas,sekarang karbon aktif dapat di uji coba dengan larutan Amonia (NH3) dalam air untuk mengetahui jenis kulit pisang dan aktifator yang mana yang paling baik dalam penyerapan larutan Amonia (NH3) pada limbah air.

4.2  Pengujian Daya Serap Karbon Aktif Terhadap Larutan Ammonia.

            Karbon aktif yang telah diaktifasi dapat diuji terhadap penyerapannya pada larutan Ammoniadidalam  limbah air.Sebanyak 1 gram karbon aktif dari masing – masing sampel jenis kulit pisang yang telah siap pakai ditambahkan ke dalam 20 ml larutan Amonia (NH3) 1.2M, kemudian dikocok dan didiamkan selama 1 jam agar proses penyerapan dapat berlangsung dengan baik. Setelah 1 jam, campuran karbon aktif dan larutan Ammonia (NH3) disaring sehingga diperoleh residu yang berupa karbon aktif serta filtrat yang berupa larutan Amonia (NH3). Selanjutnya filtrat dititrasi menggunakan larutan CH3COOH 1M.sebelum dititrasi, filtrat ditambah indikator universal untuk mengetahui titik akhir titrasi apabila larutan telah menjadi netral. Semua volume CH3COOH yang diperlukan untuk titrasi dicatat dan dihitung Mol yang diperlukan CH3COOH untuk bereaksi dengan larutan Amonia (NH3).Data volume CH3COOH 1M yang diperlukan untuk titrasi dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini.

 

Tabel.9 VolumeCH3COOH1M yang dibutuhkan untuk Titrasi filtrat

Filtrat

Perlakuan

VolumeCH3COOH yang dibutuhkan untuk Titrasi (ml)

A

Karbon A + HCl 4M

3.6

Karbon A + H2SO4 0.1 M

2.2

Karbon A + NaOH 0.1 M

0.6

Karbon A + ( KOH 4M + HCl 4 M )

4.6

B

Karbon B + HCl 4M

1.4

Karbon B + H2SO4 0.1 M

1.0

Karbon B + NaOH 0.1 M

1.4

Karbon B + ( KOH 4M + HCl 4 M )

2.8

C

Karbon C + HCl 4M

1.6

Karbon C+ H2SO4 0.1 M

3.3

Karbon C + NaOH 0.1 M

1.3

Karbon C + ( KOH 4M + HCl 4 M )

3.4

 

Setelah Volume Asam Asetat (CH3COOH) yang dibutuhkan untuk titrasi diketahui maka dapat dihitung Mol Asam Asetat(CH3COOH) yang mengalikan volume Asam Asetat (CH3COOH) dan konsentrasi larutan Asam Asetat (CH3COOH) yang digunakan.Mol Asam Asetat (CH3COOH) yang diperoleh akan sama dengan mol larutan Amonia (NH3) sisa hasil rendaman dengan karbon aktif. Kemudian konsentrasi larutan Amonia (NH3) sisa dapat diketahui dengan membagi mol larutan yang digunakan dengan volume awal larutan Amonia (NH3).

 Kapasitas penyerapan Karbon aktif terhadap larutan Amonia (NH3) dalam limbah air dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

 

Tabel.10  Ujidaya serap karbon aktif kulit pisang terhadap larutanammonia ( 1.2M ).

 

Variabel

Perlakuan

Konsentrasi pada larutan Ammonia (NH3) sebelum di beri karbon aktif (M)

Konsentrasi pada larutan Ammonia (NH3) sesudah di beri karbon aktif (M)

A

Karbon A + HCl 4M

1,205

0.218

Karbon A + H2SO4 0.1 M

1,205

0.198

Karbon A + NaOH 0.1 M

1,205

0.036

Karbon A + (KOH 4M + HCL 4M)

1,205

0.278

B

Karbon B + HCl 4M

1,205

0.168

Karbon B + H2SO4 0.1 M

1,205

0.065

Karbon B + NaOH 0.1 M

1,205

0.042

Karbon B + (KOH 4M + HCl 4M)

1,205

0.170

C

Karbon C + HCl 4M

1,205

0.192

Karbon C+ H2SO4 0.1 M

1,205

0.198

Karbon C + NaOH 0.1 M

1,205

0.072

Karbon C + (KOH 4M + HCl 4M)

1,205

0.206

 

            Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa variabel A dengan karbon aktif kulit pisang dengan jenis PisangTanduk yang ditambahkan dalam larutan NaOH 0,1M dapat menyerap larutan Amonia (NH3)sangat optimal dengan konsentrasi awal 1,205 M menjadi 0.036 M maka, besar penyerapannya yaitu1,179 M dengan menggunakan hasil karbon dari proses karbonisasi pada suhu 300 0C. Ini terjadi karenakarbon aktif dilakukan pengaktifasian terlebih dahulu. Disamping itu, terjadinya reaksi antara permukaan karbon aktif dengan larutan Amonia (NH3)yang dapat mengurangi kadar dari larutan ammonia (NH3) tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1 Kesimpulan

          Karbon aktif dari kulit pisang dapat dihasilkan dengan menggunakan proses aktifasi kimia dengan 3 cara yaitu : tahap pengeringan , tahap karbonasi dan tahap aktifasi. Proses karbonasi dilakukan untuk dapat membentuk pori-pori pada karbon aktif sehingga dapat menyerap dengan optimal. Proses karbonasi pada karbon aktif menggunakan suhu 300 0C selama 2 jam dan menggunakan NaOH 0.1 M sebagai aktifator.

            Dari keempat aktifator yang digunakan HCl 4M,KOH 4M,  H2SO4 0.1 M dan NaOH0.1 M, pada penelitian ini NaOH 0,1 M merupakan aktifator yang sangat baik untul memperbesar pori-pori pada karbon aktif. Karbon aktif yang dicampur dengan larutan NaOH 0,1 M dapat mengurangi kadar konsentrasi pada larutan amonia yang sangat siginifikan dari 1,205 M menjadi 0,036 M.

Dari semua pembahasan dalam karya tulis ini diketahui bahwa karbon aktif dapat dinyatakan berhasil apabila kadar amonia sebelum dimasukkan karbon aktif lebih rendah bila dibandingkan dengan kadar amonia setelah dimasukkan karbon aktif. Ini berarti, karbon aktiif menyerap amonia sehingga konsentrasinya berkurang tanpa mengurangi volume dari larutan tersebut.Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa karbon aktif dari kulit pisang dapat digunakan sebagai bahan alternative pengganti tempurung kelapa dimana pada percobaan ini karbon aktif dari  limbah kulit pisangberperan dalam mengurangi kadar zat amonia yang begitu signifikan

 

5.2  Saran

Untuk penelitian lebih lanjut, penulis menyarankan agar penelitian ini dapat diteruskan dengan menganalisis lebih lanjut mengenai pengaruh temperatur, luas permukaan dan struktur pori – pori reaktan terhadap efektifitas kerja karbon akti

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Alfathoni, Girun.2001. Rahasia untuk mendapatkan mutu produk karbon aktif dengan serapan Iodin diatas 1000 MG/G. Yogyakarta.

Natalina, Ferae. 2006. Penurunan warna dengan karbon aktif tempurung kelapa sawit pada air gambut sungai sebangau kota palangkaraya. Diponegoro : Universitas Diponegoro.

Pertiwi, Dini. 2009. Studi Pemanfaatan Sabut kelapa sebagai karbon aktif untuk menurunkan konsentrasi fenol.Surabaya : Jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS.

Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas XI.Jakarta : Erlangga.

Sembiring, Mei Lita,ST dan Tuti Sarma Si Naga, ST.2003. Arang aktif ( pengenalan dan proses pembuatannya ). Medan : Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Widjaja A.P,Darjo S. 1980. Pembuatan Arang Aktif dengan Cara Destilasi Kering Tempurung II.Komunikasi Balai Penelitian Kimia Bogor, no. 190:2-22

http://www.wikipedia.com/banana. (20 januari 2012 )

http://www.indonetwork.co.id/sel/Karbon_Aktif/0.htm l (21 Februari 2012)

http://www.scribd.com/doc/48187056/KARBON-AKTIF(24 Februari 2012)

http://www.mrwindu.com/2011/04/pembuatan-karbon-aktif.html(25 Februari2012)

www.cee.vt.edu/ewr/environmental/teach/gwprimer/…/achistory.html (29 Maret 2012)

 

 

 

 

 

 

 

My Journey – Trip to Pagaralam

Kota Pagaralam mempunyai potensi wisata yang sangat kaya, selain wisata alam, terdapat juga lokasi-lokasi purbakala. Di Kota Pagaralam ini terdapat sedikitnya 33 air terjun dan 26 situs menhir yang sudah tercatat. Obyek wisata yang terdapat di kota ini dan belum semuanya dikembangkan adalah:

  1. Batu Gong
  2. Perkebunan teh Lereng Dempo
  3. Sungai Lematang Indah
  4. Air Terjun Curup Embun
  5. Arca Manusia Purba

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pagar_Alam

 

It’s true, If PAGARALAM which is located in South Sumatera has a beautiful place for recreation. I went there with my big family, there were my family from Palembang, Jakarta, even from Lombok Island. They were really like to stay there. And This is the prove :)

IMG_0142

 

Here, on ‘tangga seribu Pagaralam’

I don’t really know wether the stairs exactly 1000 or not. :)

My Poem (atira’ (:)

I needed long times to found the idea about this poem,,and finally it was finish :) and read this…

Balada Seorang Kekasih

Aku merasakan sebuah metabolisme rendah pada tubuh ini

Tiap kedipan membuat mataku berakomodasi tak percaya

Inikah cahaya hitam yang mendekati diriku

Rangkaian kata di layar sentuh ini sebagai saksi

Baca lebih lanjut

SMAN SUMATERA SELATAN (SAMPOERNA ACADEMY) menyambut siswa pertukaran pelajar dari Haileybury, Melbourne.

SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) menerima siswa-siswi program pertukaran pelajar dari Haileybury, Melbourne, Australia. Setelah tahun lalu SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) mengirimkan dua siswanya yaitu Pandu Al Afghani dan Eka Rahma Saputri ke Haileybury, tahun ini enam siswa dari Haileybury berkunjung ke Palembang. Program pertukaran pelajar dan guru ini berlangsung selama dua minggu . Enam siswa Haileybury akan mengikuti seluruh aktifitas akademik dan non akademik sesuai dengan aktivitas siswa SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy).

Menurut Duncan Crowe dan Anne Hoang, siswa Haileybury, kunjungan ke Palembang ini akan membawa manfaat bagi mereka. Selain mengenal budaya Indonesia lebih dalam, mereka juga berharap dapat menambah wawasan dan teman. Siswa SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) menurut mereka sangat baik, ramah dan mandiri. Situasi belajar dan tinggal di asrama yang mereka dapatkan di SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) sangat berbeda dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah mereka di Melbourne.

Baca lebih lanjut

Historical Journay (my experience)

by Petrik Matanasi (my history teacher) on Saturday, November 12, 2011

Sasaran kami kali ini adalah Kampung Arab. Sebuah kampung kuno yang unik di pesisir Musi. 

Setelah sekian tahun, saya bertemu lagi dengan Arnaud Abbel—kami biasa panggil Arno. Kawan lama. Seorang sosialis Perancis.  Kami bertemu di Museum Sultan Mahmud Badarudin II(12/11/2011). Arno tidak berubah. Tetap lusuh. Tetap bohemian. Padahal saya sudah agak borjuis sekarang. Arno tetap seperti dulu. Kami biasa dikusi dan sesekali mantau demo di Jogja.

Baca lebih lanjut

Class Meeting 2011

SMAN Sumatera Selatan (Sampoerna Academy) held a Class Meeting last October 2011 at school. After having their mid semester exams, students felt the Class Meeting day brought them a lot of happiness. There were five competitions joined by the students of each grade level. The event was not only for game competitions, but also music performances. Each class performed their best. Being the winner was not the main idea, the most importance was to enjoy the day.

Baca lebih lanjut